shiftmediaid – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah politikus PDI Perjuangan (PDIP) melontarkan kritik terhadap sistem Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang saat ini menjadi tulang punggung distribusi makanan dalam program tersebut. Menurut PDIP, model dapur terpusat melalui SPPG dinilai belum menjadi solusi paling efektif dan masih membuka ruang perbaikan dari sisi efisiensi, pengawasan, hingga pemberdayaan ekonomi lokal.
Alih-alih terus membangun dapur-dapur SPPG baru, PDIP mengusulkan agar pemerintah memanfaatkan kantin sekolah atau dapur yang sudah tersedia di lingkungan pendidikan sebagai pusat penyediaan makanan bergizi bagi siswa. Usulan ini memicu perdebatan karena menyangkut masa depan salah satu program prioritas pemerintah.
Apa Itu SPPG? SPPG merupakan unit operasional yang dibentuk Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Dapur-dapur ini bertugas menyiapkan, mengolah, dan mendistribusikan makanan kepada penerima manfaat, termasuk siswa sekolah.
Konsep awalnya adalah memastikan standar gizi, kualitas makanan, dan distribusi dapat dikontrol secara terpusat sehingga program berjalan lebih seragam di seluruh Indonesia. Namun dalam pelaksanaannya, sejumlah pihak menilai model tersebut masih menghadapi berbagai tantangan.
Kritik PDIP terhadap Sistem SPPG
Salah satu kritik paling vokal datang dari politikus PDIP Adian Napitupulu. Menurutnya, pemerintah seharusnya memanfaatkan kantin sekolah yang sudah ada dibanding membangun SPPG yang membutuhkan investasi besar. Ia berpendapat bahwa kantin sekolah dapat langsung diberdayakan untuk memasak dan menyediakan makanan bergizi bagi siswa.
Adian menilai pendekatan tersebut memiliki beberapa keuntungan, antara lain:
- Memberdayakan pelaku UMKM kantin sekolah.
- Mengurangi biaya pembangunan dapur baru.
- Menekan biaya distribusi makanan.
- Mempercepat pengawasan kualitas makanan karena lokasi produksi berada di lingkungan sekolah.
Menurutnya, jika ratusan ribu sekolah di Indonesia memiliki kantin aktif, maka dampak ekonomi yang dihasilkan bagi masyarakat lokal juga akan jauh lebih besar.
PDIP Dorong Model Dapur Berbasis Sekolah
Tak hanya Adian Napitupulu, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari PDIP, Charles Honoris, juga mendukung perubahan pendekatan dalam pelaksanaan MBG. Ia menyambut langkah moratorium pembangunan dapur SPPG baru yang dilakukan BGN dan mendorong pengembangan model dapur langsung di sekolah.
Menurut Charles, dapur sekolah memiliki sejumlah keunggulan:
| Aspek | Sistem SPPG Terpusat | Dapur Berbasis Sekolah |
|---|---|---|
| Investasi Awal | Relatif besar | Lebih rendah |
| Distribusi | Membutuhkan logistik tambahan | Lebih dekat ke siswa |
| Pengawasan | Terpusat | Langsung oleh sekolah |
| Keterlibatan UMKM | Terbatas | Lebih besar |
| Pemanfaatan Infrastruktur | Bangunan baru | Memanfaatkan fasilitas yang ada |
Sumber: Pernyataan Charles Honoris dan PDIP terkait evaluasi MBG.
Menurut PDIP, keberhasilan program MBG seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari efektivitas anggaran, kualitas makanan, dan dampak ekonomi yang dihasilkan bagi masyarakat sekitar.
Alasan PDIP Menilai SPPG Perlu Dievaluasi
Selain faktor efisiensi, PDIP juga menyoroti berbagai persoalan yang muncul selama implementasi program MBG.
Beberapa isu yang sering menjadi perhatian publik antara lain:
- Kualitas makanan yang tidak seragam.
- Tantangan distribusi ke sekolah-sekolah.
- Biaya pembangunan dan operasional dapur.
- Kasus keracunan makanan yang sempat terjadi di sejumlah daerah.
- Pengawasan keamanan pangan yang perlu diperkuat.
Karena itu, PDIP menilai evaluasi terhadap sistem SPPG merupakan langkah yang wajar demi memastikan program berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
Tanggapan dari Pendukung Sistem SPPG
Meski demikian, kritik tersebut tidak sepenuhnya diterima semua pihak.
Sejumlah mitra Badan Gizi Nasional menilai bahwa usulan menggunakan kantin sekolah tidak semudah yang dibayangkan. Mereka mengungkapkan bahwa pada tahap awal program, kesempatan menjadi mitra sebenarnya sudah ditawarkan kepada berbagai pihak, termasuk kantin sekolah. Namun banyak yang tidak siap karena keterbatasan modal, fasilitas, maupun kapasitas produksi.
Menurut mereka, SPPG dibangun untuk memastikan kapasitas produksi yang memadai dan standar keamanan pangan yang lebih terkontrol. Karena itu, perubahan sistem membutuhkan kajian yang matang agar tidak mengganggu jalannya program MBG secara nasional.
Pemerintah Tegaskan Terbuka terhadap Kritik

Di tengah perdebatan yang berkembang, pemerintah melalui sejumlah anggota DPR pendukung program MBG menegaskan bahwa pemerintah tidak anti kritik. Evaluasi terhadap pelaksanaan program terus dilakukan, termasuk pembenahan tata kelola Badan Gizi Nasional dan sistem distribusi makanan.
Pemerintah menyebut kritik dari berbagai pihak, termasuk PDIP, dapat menjadi masukan untuk memperbaiki kualitas layanan kepada masyarakat. Namun perubahan kebijakan tetap harus mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, keamanan pangan, dan keberlanjutan program secara nasional.
Potensi Dampak Jika Usulan PDIP Diterapkan
Apabila model dapur sekolah benar-benar diterapkan secara luas, beberapa dampak yang diperkirakan muncul antara lain:
Dampak Positif
- Memberdayakan UMKM kantin sekolah.
- Mengurangi biaya distribusi.
- Meningkatkan keterlibatan masyarakat lokal.
- Mempermudah pengawasan langsung oleh sekolah.
Tantangan yang Harus Diatasi
- Standarisasi kualitas makanan.
- Kesiapan fasilitas kantin sekolah.
- Pengawasan keamanan pangan.
- Ketersediaan tenaga pengelola yang kompeten.
- Perbedaan kapasitas sekolah di berbagai daerah.
Kritik PDIP terhadap sistem SPPG menunjukkan bahwa pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis masih menjadi ruang diskusi yang terbuka. PDIP mengusulkan agar pemerintah mengurangi ketergantungan pada dapur SPPG terpusat dan lebih memberdayakan kantin atau dapur sekolah yang sudah tersedia. Menurut mereka, pendekatan tersebut dapat meningkatkan efisiensi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Di sisi lain, pendukung model SPPG menilai sistem terpusat tetap diperlukan untuk menjaga kapasitas produksi dan standar kualitas makanan. Karena itu, evaluasi yang sedang berjalan kemungkinan akan menjadi penentu arah kebijakan MBG ke depan.
Referensi
- Suara Pantura – Kritik Sistem SPPG, PDIP Usulkan Kantin Sekolah Jadi Basis Program MBG
- Nusa Daily – Adian PDIP Kritik Sistem SPPG
- Warta Ekonomi – PDIP Minta BGN Ubah Sistem Dapur SPPG Terpusat Jadi Dapur Sekolah
- Merdeka.com – Pemerintah Tidak Antikritik, Evaluasi Program MBG Terus Berjalan
- Liputan6 – PKS Setuju Tata Kelola SPPG Perlu Diperbaiki
- Wikipedia – National Nutrition Agency
- Wikipedia – Free Nutritious Meals (MBG)