Gempa Susulan NTT Tembus 8.794 Kali, BNPB Minta Warga Waspada


Ringkasan Cepat:

  • BMKG mencatat 8.794 gempa susulan di NTT sejak gempa utama M7,7 pada 15 Agustus 2026
  • Korban meninggal dunia mencapai 111 orang, terbanyak di Manggarai
  • 175.909 jiwa masih mengungsi meski sebagian mulai kembali ke rumah

Jakarta, 29 Agustus 2026 — Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan gempa susulan di Nusa Tenggara Timur telah mencapai 8.794 kali hingga Jumat, 28 Agustus 2026, dua minggu setelah gempa utama magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus.

Mengapa Ini Penting?

Tampilan data grafik seismograf digital BMKG mencatat 8.794 gempa susulan di wilayah NTT.

Rentetan gempa susulan ini berasal dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust, sesar naik di dasar laut yang memicu gempa utama pada Sabtu dini hari, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB. Episenter berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer, dan sempat memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah NTT.

Bagi warga Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, dan Sikka, angka 8.794 bukan sekadar statistik. Setiap guncangan susulan — sekecil apa pun — memicu trauma baru dan menahan ribuan keluarga untuk kembali menempati rumah yang sebenarnya masih layak huni. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan langsung perkembangan ini dalam konferensi pers, Jumat (28/8/2026).

Model struktur geologi patahan sesar naik Flores Back-Arc Thrust pemicu gempa utama Magnitudo 7,7.

“Aktivitas seismik susulan diprakirakan masih berlanjut 3 hingga 4 minggu sejak gempa utama,” ujarnya, seraya menambahkan magnitudo gempa susulan terbesar tercatat 6,2 dan terkecil 1,1.

Warga di sejumlah titik pengungsian juga masih menghadapi tekanan cuaca kemarau yang memperparah kondisi kesehatan, sebuah pola yang sempat dibahas dalam laporan risiko heatstroke dan ISPA di musim kemarau — relevan bagi pengungsi yang bertahan di tenda darurat dalam waktu lama.

Reaksi dan Dampak

Petugas medis memeriksa kesehatan pengungsi lansia di posko pengungsian gempa bumi Flores NTT.

Dampak paling berat tetap pada jumlah korban jiwa. Berton menyebut total 111 orang meninggal dunia, dengan sebaran terbanyak di Kabupaten Manggarai (45 jiwa), disusul Manggarai Timur (38 jiwa), dan Nagekeo (13 jiwa). Berdasarkan profil korban, 56,4 persen adalah perempuan dan 43,6 persen laki-laki, dengan kelompok lansia mendominasi hingga 45 persen dari total korban.

Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto, dalam keterangan terpisah pekan ini, menggambarkan kondisi psikologis warga yang masih bertahan di pengungsian.

“Masyarakat masih banyak yang takut sehingga tetap mengungsi di luar rumah,” katanya, meski sebagian rumah warga tidak mengalami kerusakan berarti.

Jumlah pengungsi tercatat 175.909 jiwa, turun tipis setelah 712 warga di posko Kabupaten Sikka memutuskan pulang ke rumah masing-masing. BNPB dan BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tidak mempercayai informasi yang tidak bersumber resmi soal potensi gempa maupun tsunami susulan, mengingat banyak isu keliru yang beredar di media sosial sejak bencana terjadi.

Kronologi Peristiwa

Program trauma healing dan dukungan psikososial bagi anak-anak pengungsi gempa di Flores NTT.
TanggalKejadianSumber
15 Agustus 2026Gempa utama M7,7 mengguncang Flores, NTT, memicu peringatan dini tsunamiBMKG
20 Agustus 2026Gempa susulan tercatat 4.084 kaliBMKG
22 Agustus 2026Korban meninggal mencapai 87 jiwa; gempa susulan lebih dari 5.000 kaliBNPB
24 Agustus 2026Gempa susulan 6.409 kali; korban jiwa menyentuh 100 orangBNPB
25 Agustus 2026Gempa susulan 7.029 kali; pengungsi 185.113 jiwaBNPB
28 Agustus 2026Gempa susulan 8.794 kali; korban jiwa 111 orang; pengungsi 175.909 jiwaBNPB

Apa Selanjutnya?

Relawan menggunakan sepeda motor trail mendistribusikan logistik bantuan gempa ke titik pengungsian terpencil di Flores.

BNPB memproyeksikan aktivitas seismik susulan berlanjut hingga tiga sampai empat minggu sejak gempa utama, yang berarti berpotensi berlangsung hingga awal-pertengahan September 2026, meski tren kekuatan dan frekuensinya diperkirakan terus menurun. Fokus penanganan bergeser ke distribusi logistik ke titik pengungsian mandiri yang sulit dijangkau kendaraan besar, serta pemulihan layanan kesehatan di wilayah terdampak.

Penanganan bencana skala ini turut menjadi bagian dari agenda pemerintahan yang lebih luas, di tengah klaim pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen yang disampaikan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto — konteks yang relevan mengingat besarnya anggaran darurat yang dialokasikan untuk NTT. Warga di wilayah terdampak, termasuk yang juga terpapar dampak bencana lain seperti kabut asap lintas batas di wilayah lain Indonesia, diimbau tetap memantau kanal resmi BMKG dan BNPB untuk info terkini.


Artikel ini ditulis oleh Redaksi shiftmediaid, tim jurnalistik shiftmediaid.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *