Kabut Asap Lintas Batas Kembali Jadi Sorotan, Malaysia dan Brunei Bawa Isu ke ASEAN

Kabut asap lintas batas kembali menjadi concern di kawasan Asia Tenggara seiring meningkatnya kebakaran hutan dan lahan serta kondisi kering di wilayah ASEAN bagian selatan. Malaysia terdampak cukup serius, terutama Sarawak, sementara posisi Brunei di Pulau Borneo membuat isu kualitas udara menjadi persoalan regional. ASEAN pun kembali menjadi forum penting untuk mendorong pencegahan dan penanganan kabut asap secara bersama-sama.

shiftmediaid – Persoalan kabut asap kembali menjadi perhatian di kawasan Asia Tenggara pada Agustus 2026. Kondisi kering yang berlangsung di sejumlah wilayah ASEAN bagian selatan mendorong peningkatan aktivitas titik panas dan kebakaran hutan maupun lahan.

Masalahnya, asap dari kebakaran tidak mengenal batas administratif negara. Ketika kebakaran berlangsung dalam skala besar dan arah angin mendukung, asap dapat bergerak ratusan kilometer dan memengaruhi kualitas udara negara tetangga.

Malaysia menjadi salah satu negara yang merasakan dampak cukup serius. Asap dari kebakaran di Pulau Borneo dilaporkan bergerak menuju wilayah Malaysia, terutama Sarawak. Situasi ini membuat persoalan kebakaran tidak lagi sekadar menjadi domestic issue, tetapi berkembang menjadi masalah lingkungan lintas batas.

Brunei Darussalam juga memiliki kepentingan besar terhadap persoalan tersebut. Secara geografis, Brunei berada di bagian utara Pulau Borneo yang juga menjadi wilayah bersama Malaysia dan Indonesia. Ketika kebakaran dan asap berkembang di Borneo, kualitas udara menjadi isu yang perlu dimonitor secara regional.

Dalam kondisi seperti ini, ASEAN menjadi platform penting untuk membicarakan mitigasi kebakaran hutan dan lahan sekaligus risiko transboundary haze pollution atau pencemaran asap lintas batas.

Sarawak Jadi Salah Satu Wilayah yang Terdampak Serius

Kabut

Dampak kabut asap di Malaysia bukan lagi sekadar persoalan langit yang terlihat sedikit buram.

Associated Press melaporkan Sarawak menjadi salah satu wilayah Malaysia yang terdampak cukup berat. Pada Jumat, 21 Agustus 2026, satu distrik mencatat kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat, sementara delapan wilayah lainnya berada dalam kategori tidak sehat.

Situasi tersebut bahkan berdampak terhadap aktivitas pendidikan.

Hampir 600 sekolah di Sarawak ditutup dan sekitar 200.000 siswa terdampak akibat kondisi kualitas udara. Kebijakan tersebut menunjukkan bagaimana kabut asap dapat dengan cepat berubah dari persoalan lingkungan menjadi masalah kesehatan publik dan aktivitas sosial.

Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian ketika kualitas udara memburuk. Selain itu, kelompok lanjut usia dan masyarakat dengan gangguan pernapasan juga dapat menghadapi risiko lebih tinggi ketika konsentrasi polutan meningkat.

Karena itulah, kabut asap lintas batas selalu menjadi isu sensitif di Asia Tenggara.

Ketika dampaknya sudah menyebabkan sekolah ditutup, penerbangan terganggu, jarak pandang berkurang, atau masyarakat mengalami gangguan kesehatan, persoalannya tidak lagi bisa dipandang hanya dari sisi negara tempat kebakaran terjadi.

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan menjadi salah satu sumber utama kekhawatiran pada periode ini.

Pada 21 Agustus 2026, Kementerian Kehutanan Indonesia dilaporkan mendeteksi lebih dari 5.000 hotspot di Pulau Borneo. Secara nasional, jumlah hotspot yang terdeteksi dalam periode 24 jam bahkan mencapai 11.908 titik.

Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan 6.352 hotspot sehari sebelumnya.

Kebakaran di sejumlah wilayah Kalimantan juga menyebabkan jarak pandang turun drastis. Di beberapa lokasi, kabut asap dilaporkan membuat jarak pandang hanya sekitar 1 hingga 10 meter.

Situasi menjadi semakin complicated karena sebagian kebakaran berlangsung di lahan gambut.

Kebakaran gambut memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kebakaran vegetasi biasa. Api dapat terus membara di bawah permukaan meskipun bagian atas terlihat sudah padam.

Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan kebakaran yang tampak padam di permukaan masih dapat menyimpan bara di bawah tanah. Hujan yang cukup diperlukan untuk kembali membasahi gambut dan membantu memadamkan api secara menyeluruh.

Pemerintah Indonesia meningkatkan operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan ketika kondisi memburuk.

Upaya pemadaman dilakukan melalui operasi darat, water bombing, patroli udara, hingga teknologi modifikasi cuaca.

Associated Press melaporkan operasi penyemaian awan kembali dilakukan di Kalimantan. Sebanyak 30 helikopter dikerahkan untuk operasi water bombing dan patroli udara, sementara 22 helikopter lainnya beroperasi di Sumatra.

Penegakan hukum juga dilakukan.

Hingga 23 Agustus 2026, kepolisian Indonesia telah menangkap 72 orang yang diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan. Mereka diperiksa dalam kaitannya dengan 89 kasus kebakaran yang tersebar di sejumlah provinsi di Kalimantan dan Sumatra.

Pemerintah juga menyelidiki kemungkinan keterlibatan perusahaan.

Setidaknya empat perusahaan di Kalimantan Barat disebut sedang diperiksa terkait dugaan penggunaan api untuk membuka lahan. Jika terbukti melakukan pelanggaran dengan sengaja, perusahaan tersebut dapat menghadapi sanksi berat, termasuk kemungkinan pencabutan izin operasional.

ASEAN Sudah Menaikkan Status Peringatan

Ancaman kabut asap sebenarnya sudah terlihat sejak awal Agustus 2026.

ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) mengaktifkan Alert Level 2 untuk wilayah ASEAN bagian selatan pada 3 Agustus 2026 setelah terjadi peningkatan hotspot dan aktivitas asap akibat kondisi cuaca kering.

Berdasarkan pengamatan satelit ketika peringatan tersebut dikeluarkan, asap dalam intensitas sedang terlihat berasal dari kelompok hotspot di Kalimantan bagian barat dan selatan.

Sejumlah plume atau kepulan asap juga terdeteksi berasal dari hotspot di Sumatra bagian selatan.

Pada 1 dan 2 Agustus 2026, satelit NOAA-20 masing-masing mendeteksi 185 dan 371 hotspot di Kalimantan. Di Sumatra, terdeteksi masing-masing 26 dan 11 hotspot pada periode yang sama.

ASMC saat itu sudah memperingatkan bahwa situasi hotspot dan kabut asap berpotensi memburuk karena cuaca kering diperkirakan bertahan.

Warning tersebut ternyata cukup relevant dengan perkembangan yang terjadi beberapa pekan kemudian.

El Niño Bikin Situasi Makin Challenging

Salah satu faktor yang membuat risiko kebakaran dan kabut asap meningkat pada 2026 adalah kondisi El Niño.

ASMC menyatakan El Niño telah hadir dan diperkirakan terus menguat dalam beberapa bulan berikutnya.

Kondisi tersebut cenderung meningkatkan kemungkinan curah hujan di bawah normal di sebagian besar kawasan ASEAN bagian selatan selama periode Agustus hingga Oktober 2026.

Ketika hujan berkurang dan suhu relatif tinggi, vegetasi serta lahan menjadi lebih kering.

Api kemudian lebih mudah muncul dan menyebar, terutama apabila terdapat aktivitas pembukaan lahan menggunakan pembakaran.

ASMC memperingatkan kombinasi El Niño dan curah hujan di bawah normal dapat meningkatkan aktivitas hotspot serta kabut asap. Risiko pencemaran asap lintas batas juga meningkat ketika angin bertiup dari tenggara atau barat daya.

Ini membuat Agustus hingga beberapa bulan berikutnya menjadi periode yang perlu mendapatkan perhatian ekstra.

Malaysia dan Brunei Punya Kepentingan Besar di Borneo

Posisi geografis membuat Malaysia dan Brunei Darussalam memiliki kepentingan langsung terhadap pengendalian kebakaran di Pulau Borneo.

Pulau tersebut terbagi di antara tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Indonesia menguasai sebagian besar wilayah Borneo melalui Kalimantan, sementara Malaysia memiliki Sabah dan Sarawak. Brunei berada di pesisir utara pulau tersebut.

Ketika kebakaran terjadi dalam skala besar di salah satu wilayah, dampak atmosfernya dapat bergerak melewati batas negara.

Itulah sebabnya isu kabut asap sulit diselesaikan hanya melalui kebijakan domestik.

Negara dapat memperkuat pemadaman dan penegakan hukum di wilayah masing-masing, tetapi monitoring atmosfer, pertukaran data hotspot, informasi arah angin, serta koordinasi penanganan tetap membutuhkan kerja sama regional.

ASEAN menjadi forum yang sangat relevan untuk kebutuhan tersebut.

Kabut Asap Bukan Persoalan Baru di ASEAN

Asia Tenggara sudah memiliki long history dengan persoalan kabut asap lintas batas.

Episode kebakaran besar pada masa lalu telah menyebabkan asap menyelimuti beberapa negara sekaligus. Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga negara ASEAN lainnya pernah merasakan dampaknya dalam berbagai tingkat.

Masalah tersebut akhirnya mendorong ASEAN membangun mekanisme kerja sama regional.

Salah satu instrumen utamanya adalah ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP).

Perjanjian tersebut dirancang sebagai kerangka kerja bagi negara-negara ASEAN untuk mencegah, memonitor, dan menangani kebakaran lahan serta hutan yang menyebabkan pencemaran asap lintas batas.

Pendekatannya bukan hanya menangani asap setelah muncul.

Pencegahan kebakaran, monitoring hotspot, kesiapsiagaan, pertukaran informasi, dan kerja sama teknis juga menjadi bagian penting dalam penanganan masalah tersebut.

ASEAN Specialised Meteorological Centre Jadi Mata Regional

Dalam penanganan kabut asap, ASEAN mempunyai ASMC yang memainkan peranan penting dalam monitoring kondisi atmosfer dan hotspot regional.

Melalui citra satelit, ASMC dapat memantau lokasi hotspot, pergerakan asap, kondisi angin, serta perkembangan musim.

Informasi tersebut kemudian menjadi early warning bagi negara-negara ASEAN.

ASMC menjelaskan bahwa Alert Level 2 dapat diaktifkan ketika terdapat aktivitas hotspot yang signifikan dan persisten, asap dalam intensitas sedang hingga pekat, cuaca kering yang berlanjut, serta kondisi angin yang berpotensi membawa asap menuju negara ASEAN lainnya.

Sistem monitoring seperti ini menjadi sangat important karena asap dapat bergerak dalam waktu relatif cepat.

Negara yang berada di jalur pergerakan asap dapat mempersiapkan respons kesehatan publik sebelum kualitas udara mencapai tingkat berbahaya.

Kabut asap memang paling mudah dikaitkan dengan gangguan pernapasan, tetapi efek ekonominya juga tidak bisa dianggap kecil.

Ketika jarak pandang menurun, transportasi udara dapat terganggu. Penerbangan mungkin mengalami delay atau perubahan jadwal karena kondisi visibilitas tidak memenuhi standar keselamatan.

Transportasi darat juga menghadapi risiko.

Pengemudi membutuhkan jarak pandang memadai untuk berkendara dengan aman. Ketika kabut asap sangat tebal, risiko kecelakaan dapat meningkat.

Sektor pendidikan seperti yang terjadi di Sarawak juga ikut terdampak.

Penutupan hampir 600 sekolah menunjukkan bahwa satu episode kabut asap dapat mengubah rutinitas ratusan ribu orang hanya dalam waktu singkat.

Belum lagi biaya kesehatan, produktivitas pekerja, aktivitas pariwisata, hingga operasional perusahaan yang dapat ikut terdampak.

Dengan kata lain, kabut asap memiliki economic cost yang cukup luas.

Kabut asap lintas batas juga memiliki dimensi diplomatik.

Ketika polusi udara dari suatu wilayah bergerak menuju negara tetangga, tekanan publik biasanya meningkat. Masyarakat di negara terdampak ingin mengetahui sumber asap dan langkah apa yang dilakukan untuk menghentikannya.

Pada kondisi seperti ini, komunikasi antarnegara menjadi sangat penting.

Fokusnya bukan hanya mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi memastikan sumber kebakaran dapat dikendalikan secepat mungkin.

Indonesia sendiri menghadapi persoalan yang sama di dalam negeri. Warga di Kalimantan dan Sumatra berada paling dekat dengan sumber kebakaran dan menjadi kelompok yang pertama kali merasakan kualitas udara buruk.

Karena itu, penanganan kabut asap memiliki shared interest bagi seluruh negara kawasan.

Udara bersih pada akhirnya tidak mengenal paspor.

Pengalaman berulang mengenai kabut asap menunjukkan bahwa strategi paling efektif bukan menunggu kebakaran menjadi besar.

Pencegahan perlu dilakukan ketika kondisi masih manageable.

Monitoring hotspot menjadi salah satu instrumen penting. Ketika titik panas muncul, verifikasi lapangan dapat dilakukan untuk mengetahui apakah lokasi tersebut benar-benar mengalami kebakaran.

Penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal juga menjadi bagian penting.

Jika pembukaan lahan menggunakan api dianggap sebagai metode murah tanpa konsekuensi serius, risiko kejadian berulang akan tetap tinggi.

Pengelolaan lahan gambut juga membutuhkan perhatian khusus. Gambut yang kering sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan ketika api sudah masuk ke bawah permukaan.

Karena itu, menjaga kelembapan gambut menjadi salah satu langkah preventive yang jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan pemadaman setelah kebakaran meluas.

Malaysia dan Brunei Dorong Isu Asap Tetap Jadi Agenda ASEAN

Kekhawatiran Malaysia dan Brunei Darussalam terhadap kabut asap menunjukkan bahwa isu tersebut tetap relevan dalam agenda lingkungan ASEAN.

Situasi pada Agustus 2026 menjadi reminder bahwa pencemaran udara lintas batas belum sepenuhnya menjadi persoalan masa lalu.

ASMC bahkan memperkirakan curah hujan di bawah normal dapat bertahan di kawasan ASEAN bagian selatan selama periode Agustus hingga Oktober. Dengan El Niño yang diperkirakan menguat, risiko periode kering berkepanjangan dan kabut asap lintas batas juga meningkat.

Kondisi tersebut membuat koordinasi antarnegara menjadi semakin urgent.

Malaysia berkepentingan melindungi masyarakatnya dari kualitas udara buruk. Brunei Darussalam memiliki kepentingan serupa karena berada di Pulau Borneo. Indonesia juga berkepentingan menghentikan kebakaran karena masyarakat Indonesia sendiri menjadi kelompok yang paling dekat dengan sumber api.

Pada akhirnya, kabut asap menjadi salah satu contoh paling nyata mengenai pentingnya ASEAN sebagai kawasan.

Batas negara mungkin terlihat jelas di peta, tetapi atmosfer tidak mengikuti garis tersebut.

Ketika hutan dan lahan terbakar dalam skala besar, asap dapat bergerak mengikuti angin menuju wilayah mana pun. Karena itu, solusi jangka panjang membutuhkan kombinasi penegakan hukum, pencegahan kebakaran, pengelolaan gambut, teknologi monitoring, respons cepat, serta kerja sama regional.

Persoalan kabut asap yang kembali mencuat pada 2026 menjadi warning bahwa negara-negara ASEAN tidak boleh lengah.

Karena ketika satu kawasan Borneo terbakar, dampaknya bisa menjadi problem bersama.

Referensi

ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC). Activation of Alert Level 2 for the Southern ASEAN Region, 3 Agustus 2026. ASMC mencatat peningkatan hotspot dan aktivitas kabut asap di Kalimantan dan Sumatra serta meningkatnya risiko transboundary haze.

ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC). Seasonal Forecast for August–October 2026. ASMC memperkirakan curah hujan di bawah normal dan penguatan El Niño meningkatkan risiko hotspot serta kabut asap lintas batas di ASEAN bagian selatan.

ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC). Review of Regional Haze Situation for July 2026, 5 Agustus 2026.

Associated Press. Indonesia warns against starting open blazes as haze from wildfires spreads to Malaysia, 21 Agustus 2026. Laporan mengenai kebakaran di Borneo, kabut asap di Sarawak, serta penutupan ratusan sekolah.

Associated Press. Indonesian police arrest 72 people suspected of starting forest fires, 23 Agustus 2026. Laporan mengenai penegakan hukum, perkembangan kebakaran, operasi pemadaman, dan dampak kabut asap terhadap Malaysia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *