shiftmediaid – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak kesehatan selama puncak musim kemarau 2026. Selain berpotensi memicu kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan, kondisi cuaca yang semakin panas juga meningkatkan risiko heatstroke atau sengatan panas serta Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat penurunan kualitas udara.
BMKG menjelaskan bahwa pada musim kemarau, tutupan awan cenderung lebih sedikit sehingga sinar matahari dapat memanaskan permukaan bumi secara lebih intens. Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara terasa lebih terik, terutama pada siang hingga sore hari. Di sisi lain, udara yang lebih kering dan meningkatnya debu maupun asap akibat kebakaran lahan dapat memperburuk kualitas udara dan memicu gangguan pernapasan.
Heatstroke Jadi Ancaman Saat Beraktivitas di Luar Ruangan

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa suhu panas selama musim kemarau berpotensi menyebabkan heatstroke, khususnya bagi masyarakat yang beraktivitas dalam waktu lama di luar ruangan.
Heatstroke merupakan kondisi darurat medis ketika suhu tubuh meningkat secara drastis akibat paparan panas berlebih. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan organ hingga mengancam jiwa. BMKG mengingatkan bahwa pekerja lapangan, atlet, anak-anak, lansia, dan masyarakat yang sering beraktivitas di bawah terik matahari termasuk kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi.
Gejala heatstroke yang perlu diwaspadai antara lain suhu tubuh yang sangat tinggi, sakit kepala, pusing, kulit terasa panas, denyut jantung meningkat, mual, kebingungan, hingga kehilangan kesadaran. Apabila seseorang mengalami tanda-tanda tersebut setelah terpapar panas dalam waktu lama, penanganan medis harus segera dilakukan.
Kualitas Udara Menurun, Risiko ISPA Meningkat
Selain suhu panas, BMKG juga menyoroti penurunan kualitas udara selama musim kemarau. Kondisi udara yang dipenuhi debu, partikel halus, maupun asap dari kebakaran hutan dan lahan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama ISPA.
Menurut BMKG, kualitas udara yang memburuk memiliki hubungan erat dengan meningkatnya kasus penyakit pernapasan di masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah daerah dan sektor kesehatan diminta menyiapkan langkah antisipasi agar dampaknya dapat ditekan, terutama di wilayah yang rawan mengalami polusi udara selama musim kemarau.
Suhu Harian Mencapai 30–34 Derajat Celsius
Berdasarkan pemantauan BMKG, suhu maksimum harian di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir berkisar antara 30 hingga 34 derajat Celsius. Kondisi tersebut terpantau di berbagai daerah seperti Lampung, Kualanamu, Semarang, Banyuwangi, Sentani, dan Gorontalo.
Meski angka tersebut masih berada dalam kisaran yang umum terjadi di Indonesia, kombinasi antara suhu tinggi, minimnya tutupan awan, kelembapan tertentu, serta paparan sinar matahari langsung dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila masyarakat tidak melakukan langkah perlindungan yang memadai.
BMKG Imbau Masyarakat Lakukan Langkah Pencegahan
Untuk mengurangi risiko heatstroke dan ISPA, BMKG mengimbau masyarakat agar memperbanyak konsumsi air putih secara teratur, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan. Menjaga tubuh tetap terhidrasi menjadi salah satu cara paling efektif untuk membantu tubuh mengatur suhu secara alami.
Selain itu, masyarakat disarankan menggunakan topi, payung, atau pelindung kepala saat berada di bawah sinar matahari langsung. Penggunaan pakaian yang ringan, kacamata hitam, dan tabir surya juga dapat membantu mengurangi dampak paparan sinar ultraviolet.
BMKG juga mengingatkan agar aktivitas fisik berat sebaiknya dikurangi pada waktu siang hari ketika suhu udara berada pada titik tertinggi. Bagi masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan atau termasuk kelompok rentan, penggunaan masker saat kualitas udara memburuk juga menjadi langkah pencegahan yang dianjurkan.
Puncak Kemarau Diperkirakan Terjadi pada Agustus
BMKG sebelumnya memprediksi bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan di sejumlah wilayah berlangsung lebih panjang dibanding kondisi normal, sehingga berbagai sektor diminta meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk sektor kesehatan.
Selain masyarakat, pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, serta instansi terkait diharapkan memperkuat langkah mitigasi untuk mengantisipasi meningkatnya gangguan kesehatan akibat cuaca panas dan kualitas udara yang menurun.
BMKG menegaskan akan terus memperbarui analisis kondisi atmosfer dan iklim sebagai dasar penyampaian informasi kepada masyarakat. Warga diimbau untuk selalu mengikuti informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG agar dapat menyesuaikan aktivitas sehari-hari sesuai perkembangan kondisi di wilayah masing-masing.
Dengan meningkatnya kewaspadaan serta penerapan langkah-langkah pencegahan sederhana, risiko gangguan kesehatan selama musim kemarau diharapkan dapat diminimalkan. Menjaga hidrasi, mengurangi paparan panas berlebih, serta melindungi diri dari kualitas udara yang buruk menjadi kunci penting agar masyarakat tetap sehat selama menghadapi puncak musim kemarau tahun ini.
Referensi
- BMKG – Puncak Musim Kemarau Agustus 2026, Perkuat Kesiapan Hadapi Dampak El Nino
- ANTARA – BMKG Peringatkan Risiko Heatstroke dan ISPA Selama Musim Kemarau
- Metro TV News – Cuaca Panas! BMKG Wanti-Wanti Ancaman ISPA dan Heatstroke
- BMKG – Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 di Indonesia