Skateboard Kembali Populer, Simbol Kebebasan yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

shiftmediaid – Suara roda polyurethane bergesekan dengan aspal terdengar lagi.

Krek.

Papan menghantam trotoar.

Seorang anak mengambil ancang-ancang, menendang bagian belakang skateboard, kemudian mencoba ollie.

Gagal.

Papan terlempar.

Ia mengambilnya lagi.

Beberapa meter dari sana, temannya merekam menggunakan smartphone. Video berdurasi belasan detik itu mungkin malam nanti masuk TikTok atau Instagram.

Pemandangan seperti ini terasa sangat 2020-an.

Anehnya, kalau smartphone di tangan mereka dihilangkan, pemandangan yang sama bisa saja terjadi pada 1980-an, 1990-an, atau awal 2000-an.

Itulah skateboard.

Tren datang dan pergi, tetapi papan dengan empat roda ini seperti menolak mati.

Sekarang skateboard kembali populer, terutama setelah budaya streetwear, media sosial, video pendek, perkembangan skatepark, dan Olimpiade membuat olahraga ini semakin terlihat oleh generasi baru.

Namun daya tarik skateboard ternyata lebih dalam daripada sekadar olahraga.

Sejak lama, skateboard membawa sebuah ide sederhana:

kebebasan.

Tidak ada gawang.

Tidak ada lapangan dengan ukuran wajib.

Tidak harus ada lawan.

Bahkan tidak selalu ada pelatih.

Ada papan, ruang kosong, sedikit keberanian, dan pertanyaan sederhana:

“Kalau gue coba trik di sini, bisa nggak?”

Dari situlah sebuah trotoar biasa berubah menjadi arena bermain.

Skateboard Lahir dari Orang-Orang yang Ingin Tetap Berselancar

Untuk memahami kenapa skateboard identik dengan kebebasan, kita harus kembali ke California.

Budaya skateboard modern mempunyai hubungan sangat erat dengan surfing.

Pada pertengahan abad ke-20, peselancar California mencari cara mendapatkan sensasi surfing ketika ombak sedang tidak bersahabat.

Ide dasarnya sederhana.

Kalau tidak bisa surfing di laut, kenapa tidak “surfing” di daratan?

Papan kecil dipasangi roda.

Lalu lahirlah sesuatu yang pada awal perkembangannya sering disebut sidewalk surfing.

Jalan menjadi ombak.

Trotoar menjadi laut.

Gerakan tubuh peselancar kemudian dibawa ke atas aspal.

Smithsonian mencatat skateboard mulai menjadi populer pada 1960-an, dengan akar kuat pada komunitas surfing California. Perkembangannya kemudian mengalami beberapa gelombang naik-turun sebelum akhirnya membentuk budaya tersendiri.

Dari awal saja skateboard sudah mempunyai DNA yang berbeda.

Ia tidak lahir dari stadion.

Ia lahir dari keinginan bermain.

Ketika Kolam Renang Kosong Berubah Menjadi Arena Skate

Kemudian datang salah satu periode yang membentuk karakter skateboard modern.

California mengalami kekeringan parah pada 1970-an.

Banyak kolam renang halaman belakang dikosongkan.

Bagi kebanyakan orang, kolam kosong hanyalah kolam yang tidak bisa digunakan.

Bagi skateboarder?

Itu arena.

Skater mulai masuk ke kolam kosong dan menggunakan permukaan melengkungnya untuk melakukan manuver.

Dinding kolam menjadi sesuatu yang bisa dinaiki.

Sudut-sudut beton menjadi tantangan.

Dari sinilah budaya vertical skating berkembang semakin jauh.

Kelompok seperti Zephyr Competition Team atau Z-Boys dari kawasan Dogtown, California, kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah skateboard.

Mereka membawa gaya agresif yang sangat dipengaruhi surfing.

Tetapi ada satu perubahan mental yang jauh lebih besar.

Skater mulai melihat kota dengan cara berbeda.

Orang biasa melihat tangga.

Skater melihat sesuatu yang bisa dilompati.

Orang biasa melihat pegangan tangga.

Skater melihat rail.

Orang biasa melihat bangku beton.

Skater melihat tempat grind.

Orang biasa melihat kolam kosong.

Skater melihat playground.

Kemampuan mengubah fungsi ruang inilah yang kemudian menjadi salah satu karakter paling khas skateboard.

Kota Adalah Playground

Coba berjalan di pusat kota bersama skateboarder.

Pengalaman visualnya bisa berbeda.

Ada sebuah tangga lima anak tangga.

Kebanyakan orang berpikir bagaimana cara turun dengan aman.

Skater mungkin berpikir apakah tangga tersebut bisa dilompati.

Ada sebuah tembok pendek.

Orang lain melihat pembatas.

Skater melihat kemungkinan melakukan wallride.

Ada permukaan beton panjang.

Mungkin bisa digunakan untuk grind.

Skateboard membuat pemainnya membaca arsitektur kota menggunakan bahasa yang berbeda.

Dan mungkin di sinilah simbol kebebasan skateboard menjadi paling terlihat.

Ruang publik tidak lagi mempunyai satu fungsi.

Ia bisa diinterpretasikan ulang.

Kota yang biasanya mengatakan “berjalanlah di sini” atau “duduklah di sana” tiba-tiba menjadi sesuatu yang bisa dimainkan.

Tentu saja kebebasan tersebut mempunyai batas. Skateboarding tetap harus mempertimbangkan keselamatan, hak pengguna ruang publik lain, kepemilikan properti, serta aturan setempat.

Tetapi secara budaya, gagasan bahwa ruang dapat digunakan secara kreatif menjadi bagian besar dari identitas skateboarding.

Skateboard Tidak Meminta Tubuh yang “Sempurna”

Ada alasan lain kenapa skateboard gampang menarik orang.

Kamu tidak harus terlihat seperti atlet profesional.

Datang ke skatepark dan kita bisa menemukan berbagai tipe manusia.

Ada anak sekolah.

Mahasiswa.

Pekerja.

Orang yang sudah bermain puluhan tahun.

Ada yang tinggi.

Ada yang pendek.

Ada yang sangat atletis.

Ada yang kelihatannya seperti baru bangun tidur.

Pakaian pun sering terasa bebas.

Kaos longgar.

Celana baggy.

Sepatu skate yang sudah penuh goresan.

Tidak ada seragam universal.

Identitas pribadi justru menjadi bagian dari budaya.

Dan karena skateboard merupakan aktivitas individual yang tumbuh bersama komunitas, standar keberhasilannya juga bisa sangat personal.

Bagi seorang profesional, kickflip mungkin sesuatu yang sangat dasar.

Bagi pemula yang sudah mencoba 300 kali, mendaratkan kickflip pertama bisa terasa seperti memenangkan kejuaraan.

Itulah bagian menariknya.

Lawan terbesarnya sering kali bukan orang lain.

Tetapi versi diri sendiri kemarin.

Jatuh Adalah Bagian dari Bahasa Skateboard

Ada satu hal yang hampir pasti terjadi ketika belajar skateboard.

Jatuh.

Bukan sekali.

Berkali-kali.

Kita melihat video skateboard profesional selama delapan detik.

Ia melaju.

Ollie.

Kickflip.

Mendarat sempurna.

Video selesai.

Yang tidak terlihat mungkin 40 percobaan sebelumnya.

Papan terlempar.

Kaki salah mendarat.

Trik hampir masuk tetapi gagal di detik terakhir.

Kemudian dicoba lagi.

Inilah salah satu alasan budaya skateboard mempunyai hubungan kuat dengan kegigihan.

Tidak ada tombol “undo”.

Ketika gagal, tubuh benar-benar merasakan kegagalannya.

Kemudian kita mengambil papan.

Naik lagi.

Mencoba lagi.

Karena itu skateboard mempunyai semacam filosofi sederhana yang tidak perlu ditulis di buku motivasi.

Gagal, bangun, ulangi.

Era Tony Hawk Membuat Skateboard Meledak

Kalau tumbuh pada akhir 1990-an atau awal 2000-an, kemungkinan besar ada satu nama yang langsung muncul ketika mendengar kata skateboard.

Tony Hawk.

Ia menjadi salah satu figur paling terkenal dalam sejarah skateboard.

Pada X Games 1999, Hawk berhasil melakukan 900, trik yang melibatkan rotasi dua setengah putaran di udara.

Momen tersebut menjadi salah satu peristiwa ikonik dalam sejarah olahraga aksi.

Namun pengaruh Tony Hawk tidak berhenti di skatepark.

Ada sesuatu yang mungkin bahkan lebih berpengaruh terhadap generasi berikutnya.

Video game.

Tony Hawk’s Pro Skater dirilis pada 1999.

Tiba-tiba jutaan anak yang mungkin tidak pernah datang ke skatepark mengenal ollie, kickflip, boardslide, grind, dan berbagai nama skater profesional.

Mereka mengenal musik punk dan hip-hop yang melekat dengan kultur skate.

Mereka mengenal estetika jalanan.

Dan sebagian akhirnya membeli skateboard sungguhan.

Skateboarding masuk ke kamar anak-anak melalui PlayStation.

Musik, Fashion, dan Skateboard Sulit Dipisahkan

Skateboard kemudian berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih luas daripada olahraga.

Ia masuk ke musik.

Punk.

Hardcore.

Hip-hop.

Alternative rock.

Kemudian masuk ke fashion.

Sepatu skate menjadi bagian dari streetwear.

Kaos oversized.

Celana longgar.

Beanie.

Graphic tee.

Deck skateboard sendiri bahkan berubah menjadi kanvas seni.

Bagian bawah papan yang sebenarnya akan tergores aspal justru sering mempunyai desain sangat detail.

Itu sedikit ironis.

Kita membeli sebuah karya grafis keren.

Kemudian menggunakannya untuk grind sampai gambarnya hancur.

Tetapi mungkin justru itulah filosofinya.

Barang tersebut dibuat untuk digunakan.

Bukan dipajang.

Skateboard menjadi alat olahraga sekaligus bagian dari identitas.

Lalu Skateboard Sempat Terlihat Menghilang

Tren skateboard tidak pernah benar-benar bergerak lurus.

Ada periode ketika ia sangat mainstream.

Kemudian turun.

Kemudian naik lagi.

Pada suatu masa skateboarding ada di mana-mana.

MTV.

Video musik.

Game.

Majalah.

X Games.

Brand pakaian.

Film.

Kemudian internet berubah.

Industri hiburan berubah.

Generasi berubah.

Tren olahraga juga berubah.

Tetapi komunitas skate tetap bermain.

Mereka merekam video.

Membuat skate shop.

Membangun komunitas lokal.

Mengadakan kompetisi.

Menggunakan jalanan.

Skateboard tidak benar-benar hilang.

Sorotan mainstream saja yang berpindah.

Sampai akhirnya beberapa perubahan besar membuat dunia kembali melihatnya.

Media Sosial Mengubah Cara Orang Menemukan Skateboard

Dulu untuk melihat skateboarding berkualitas tinggi, seseorang mungkin harus membeli VHS, DVD, atau majalah skate.

Sekarang?

Buka smartphone.

Satu video skate berdurasi 15 detik bisa ditonton jutaan kali.

TikTok, Instagram, dan YouTube mengubah distribusi budaya skateboard.

Skater dari kota kecil tidak harus menunggu direkrut perusahaan besar agar videonya dilihat orang.

Ia bisa merekam trik.

Upload.

Besok pagi ribuan orang mungkin sudah melihatnya.

Barrier to entry untuk menikmati kultur skate menjadi jauh lebih rendah.

Dan algoritma mempunyai efek menarik.

Seseorang yang awalnya hanya melihat satu video kickflip mungkin mendapatkan video skateboard lain.

Kemudian tutorial ollie.

Kemudian video street skating.

Kemudian review skateboard pemula.

Seminggu kemudian dia mulai mencari harga deck.

Budaya yang dulu tumbuh lewat skate shop lokal sekarang juga menyebar melalui layar smartphone.

Olimpiade Membawa Skateboard ke Panggung yang Sama Sekali Baru

Kemudian terjadi sesuatu yang mungkin terasa aneh bagi generasi skateboard lama.

Skateboarding masuk Olimpiade.

Debut Olimpiadenya terjadi pada Tokyo 2020, yang diselenggarakan pada 2021 akibat pandemi COVID-19.

Ada dua disiplin utama: street dan park.

Street menggunakan arena yang meniru elemen lingkungan perkotaan seperti tangga, rail, dan ledge.

Park menggunakan arena dengan transisi, bowl, dan permukaan melengkung.

Skateboarding kembali dipertandingkan di Olimpiade Paris 2024.

International Olympic Committee juga memasukkan skateboarding dalam program Los Angeles 2028.

Perubahan ini sangat besar secara simbolis.

Aktivitas yang selama puluhan tahun sering dianggap budaya jalanan, bahkan kadang diasosiasikan dengan anak muda yang “mengganggu” ruang publik, sekarang mendapatkan medali Olimpiade.

Papan yang dahulu dikejar satpam sekarang tampil di panggung olahraga terbesar dunia.

Ironis?

Sedikit.

Tetapi juga menunjukkan betapa jauh skateboarding berkembang.

Anak-Anak Muda Mengubah Wajah Skateboard

Olimpiade juga memperlihatkan sesuatu yang menarik.

Banyak atlet papan atas skateboarding sangat muda.

Pada Tokyo 2020, Momiji Nishiya dari Jepang memenangkan emas women’s street ketika berusia 13 tahun.

Rayssa Leal dari Brasil meraih perak ketika juga berusia 13 tahun.

Sky Brown memenangkan perunggu women’s park untuk Britania Raya pada usia 13 tahun.

Tiba-tiba jutaan anak melihat skateboard bukan sebagai sesuatu yang hanya dilakukan pria dewasa bertato di bawah jembatan.

Mereka melihat anak perempuan seusia mereka berdiri di podium Olimpiade.

Representasi seperti ini mempunyai efek besar.

Skateboard menjadi terlihat lebih terbuka.

Lebih global.

Lebih beragam.

Dan generasi baru mulai mempunyai idola sendiri.

Tapi Apakah Masuk Olimpiade Membunuh Jiwa Pemberontak Skateboard?

Pertanyaan ini menarik.

Karena skateboard sejak lama mempunyai identitas anti-establishment.

Tidak terlalu suka aturan.

Tidak terlalu tertarik dengan struktur olahraga tradisional.

Kemudian sekarang ada juri.

Skor.

Federasi.

Seragam negara.

Medali.

Olimpiade.

Bukankah itu bertentangan?

Jawabannya mungkin ada pada dua dunia yang sekarang berjalan bersamaan.

Ada skateboarding kompetitif.

Ada pula street skating.

Seseorang bisa mengejar medali Olimpiade.

Orang lain bisa menghabiskan sore mencoba satu trik di depan minimarket.

Keduanya tetap skateboarder.

Skateboarding tidak harus memilih salah satu.

Justru fleksibilitas itu mungkin menjadi kekuatannya.

Skateboard Kembali Populer karena Tidak Membutuhkan Banyak Hal

Ada faktor sederhana yang sering terlupakan.

Untuk mulai bermain skateboard, kebutuhan dasarnya relatif ringkas.

Sebuah papan.

Sepatu yang layak.

Perlengkapan keselamatan sesuai kebutuhan dan tingkat kemampuan.

Kemudian permukaan yang aman untuk berlatih.

Tidak perlu sebelas orang.

Tidak perlu menyewa lapangan besar.

Tidak perlu menunggu teman.

Kalau jam lima sore ingin skating, ambil papan dan pergi.

Ada kebebasan waktu di sana.

Ada kebebasan sosial.

Mau bermain sendiri bisa.

Mau bergabung komunitas bisa.

Mau fokus street bisa.

Mau park bisa.

Mau sekadar cruising keliling kompleks juga tidak masalah.

Tidak semua orang yang mempunyai skateboard harus mengejar kickflip.

Skateboard dan Kebebasan untuk Menjadi Diri Sendiri

Mungkin inilah alasan skateboard selalu berhasil kembali.

Generasi berubah, tetapi kebutuhan manusia muda tidak terlalu berubah.

Mereka ingin mempunyai ruang sendiri.

Ingin menemukan identitas.

Ingin mempunyai kelompok.

Ingin berekspresi.

Dan sesekali ingin melakukan sesuatu tanpa harus diberi tahu bagaimana cara melakukannya.

Skateboard menyediakan semua itu dalam satu benda sederhana.

Deck bahkan bisa dipersonalisasi.

Sticker ditempel.

Grip tape digambar.

Truck diganti.

Wheel dipilih.

Sepatu punya gaya sendiri.

Cara bermain pun akhirnya menjadi identitas.

Dua orang bisa melakukan trik yang sama tetapi terlihat sangat berbeda.

Dalam skateboarding ada istilah yang sulit diukur dengan angka:

style.

Triknya bisa sama.

Tetapi bagaimana seseorang melakukannya menjadi cerita lain.

Di Tengah Dunia Digital, Skateboard Terasa Sangat Fisik

Ada paradoks menarik mengenai kebangkitan skateboard di era media sosial.

Internet membantu membuatnya populer.

Tetapi aktivitasnya sendiri justru menjadi pelarian dari internet.

Kita menghabiskan semakin banyak waktu menatap layar.

Bekerja melalui laptop.

Mengobrol lewat smartphone.

Menonton hiburan melalui tablet.

Bahkan pertemanan bisa berlangsung di ruang digital.

Skateboard memaksa tubuh kembali ke dunia fisik.

Aspal benar-benar kasar.

Gravitasi benar-benar menarik tubuh ke bawah.

Kecepatan benar-benar terasa.

Kalau salah menempatkan kaki, papan benar-benar kabur.

Tidak ada filter.

Tidak ada edit.

Tidak ada tombol restart instan.

Mungkin justru karena hidup semakin digital, aktivitas yang sangat fisik seperti skateboard terasa semakin berharga.

Skatepark Juga Menjadi Ruang Sosial

Skateboard terlihat individual.

Tetapi budaya di sekelilingnya sangat sosial.

Datang ke skatepark sendirian bukan berarti pulang sendirian.

Seseorang mencoba trik.

Orang lain melihat.

Hampir masuk.

Coba lagi.

Akhirnya berhasil.

Orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya bisa ikut bersorak.

Ada bentuk solidaritas unik di sana.

Karena semua orang tahu satu trik yang terlihat sederhana mungkin membutuhkan puluhan atau ratusan percobaan.

Komunitas terbentuk dari pengalaman gagal yang sama.

Tidak selalu ada pelatih formal.

Skater yang lebih berpengalaman sering membantu pemula.

“Taruh kaki di sini.”

“Bahu jangan terlalu terbuka.”

“Commit aja.”

Pengetahuan berpindah secara organik.

Kebebasan Tetap Membutuhkan Kesadaran Risiko

Namun romantisasi skateboard juga perlu mempunyai batas.

Skateboarding mempunyai risiko cedera.

Jatuh merupakan bagian dari proses belajar, tetapi cedera kepala, pergelangan tangan, siku, lutut, dan pergelangan kaki bukan sesuatu yang perlu dianggap keren.

Pemula idealnya belajar secara bertahap, memilih tempat yang sesuai kemampuan, menggunakan perlengkapan keselamatan seperti helm dan pelindung ketika diperlukan, serta memahami kondisi lalu lintas dan lingkungan.

Kebebasan bukan berarti mengabaikan risiko.

Begitu pula ketika menggunakan ruang publik.

Street skating mempunyai sejarah kuat dalam budaya skateboard, tetapi ruang publik digunakan bersama orang lain.

Pejalan kaki tetap mempunyai hak untuk merasa aman.

Properti orang lain tetap perlu dihormati.

Skateboarding paling menarik ketika kreativitas bertemu tanggung jawab.

Empat Roda yang Selalu Menemukan Generasi Baru

Pada akhirnya mungkin skateboard tidak pernah benar-benar “kembali”.

Ia hanya terus ditemukan ulang.

Generasi 1970-an menemukan kebebasan di kolam renang kosong.

Generasi 1980-an membangun kultur underground.

Generasi 1990-an dan 2000-an melihat Tony Hawk terbang di vert ramp dan memainkan Tony Hawk’s Pro Skater di konsol.

Generasi berikutnya menemukannya lewat YouTube.

Sekarang seseorang bisa menemukan skateboard lewat video TikTok berdurasi sepuluh detik atau melihat remaja memenangkan medali Olimpiade.

Medianya berubah.

Papan dasarnya hampir tetap sama.

Sepotong deck.

Dua truck.

Empat roda.

Dan manusia di atasnya.

Mungkin itulah alasan skateboard kembali populer setiap beberapa tahun.

Kita selalu menemukan teknologi baru.

Smartphone semakin canggih.

AI semakin pintar.

Dunia semakin digital.

Tetapi ada sensasi tertentu yang tidak membutuhkan upgrade software.

Dorong kaki ke aspal.

Naik ke papan.

Rasakan roda mulai bergerak.

Untuk beberapa detik, tidak ada algoritma yang menentukan ke mana kita harus pergi.

Hanya ada jalan di depan.

Dan kita bebas memilih arahnya.

Referensi

Olympics. Skateboarding: Olympic history, rules, latest updates and upcoming events. Informasi resmi mengenai sejarah skateboarding di Olimpiade dan disiplin street serta park.
https://www.olympics.com/en/sports/skateboarding/

International Olympic Committee. LA28 Olympic Sport Programme. Informasi mengenai skateboarding dalam program Olimpiade Los Angeles 2028.
https://olympics.com/ioc/olympic-programme-commission

Smithsonian Institution. Skateboarding and Skate Culture. Materi koleksi dan sejarah perkembangan skateboard serta kaitannya dengan budaya Amerika.
https://www.si.edu/

Encyclopaedia Britannica. Skateboarding. Sejarah perkembangan skateboard dari akar budaya surfing hingga olahraga modern.
https://www.britannica.com/sports/skateboarding

World Skate. Skateboarding. Informasi mengenai perkembangan skateboard kompetitif dan ekosistem olahraga skateboard internasional.
https://www.worldskate.org/skateboarding/

Olympics. Tokyo 2020 Skateboarding Results. Data resmi kompetisi skateboard Tokyo 2020, termasuk pencapaian generasi muda dalam nomor street dan park.
https://olympics.com/en/olympic-games/tokyo-2020/results/skateboarding

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *