shiftmediaid – Duta Besar Laos untuk Indonesia mencuri perhatian publik setelah memperlihatkan kemampuannya berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Bukan sekadar mengucapkan salam atau beberapa kosakata dasar, sang diplomat terlihat cukup percaya diri menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi.
Momen tersebut langsung menjadi sesuatu yang menarik. Pasalnya, melihat diplomat asing berbicara dalam bahasa Indonesia selalu memberikan kesan tersendiri. Apalagi ketika pengucapannya terdengar semakin natural dan tidak hanya mengandalkan kalimat formal yang biasanya sudah dipersiapkan sebelumnya.
Skill bahasa Indonesia yang diperlihatkan Duta Besar Laos tersebut juga menjadi contoh bagaimana bahasa dapat menjadi jembatan diplomasi yang terasa jauh lebih dekat. Di tengah hubungan antarnegara yang biasanya identik dengan pertemuan resmi, nota diplomatik, dan kerja sama bilateral, kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa lokal memberikan sentuhan yang lebih personal.
Bagi masyarakat Indonesia, hal sederhana seperti mendengar diplomat asing berbicara menggunakan bahasa Indonesia bahkan bisa terasa cukup spesial. Ada semacam appreciation ketika seseorang yang berasal dari negara lain mau mempelajari bahasa yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Duta Besar Laos Tunjukkan Kemampuan Bahasa Indonesia

Kemampuan berbahasa Indonesia yang ditampilkan Duta Besar Laos menjadi perhatian karena memperlihatkan sisi berbeda dari seorang diplomat. Jika biasanya seorang duta besar muncul dalam pemberitaan berkaitan dengan agenda bilateral, kali ini kemampuan bahasa justru menjadi highlight.
Bahasa Indonesia memang mempunyai posisi penting dalam aktivitas diplomatik di Jakarta. Meskipun bahasa Inggris lazim digunakan dalam komunikasi internasional, kemampuan berbicara menggunakan bahasa Indonesia dapat membantu diplomat membangun komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat maupun pejabat lokal.
Ketika seorang diplomat asing mencoba berbicara bahasa Indonesia, respons publik biasanya cukup positif. Tidak harus mempunyai pronunciation yang benar-benar sempurna. Keberanian untuk berbicara dan memahami konteks percakapan saja sudah menjadi sesuatu yang menarik.
Dalam konteks diplomasi, kemampuan tersebut tentu lebih dari sekadar flexing skill bahasa. Ada upaya memahami budaya serta lingkungan tempat seorang diplomat menjalankan tugasnya.
Bahasa Indonesia Jadi Jembatan Diplomasi
Diplomasi bukan hanya urusan pertemuan antarpemerintah. Hubungan antarnegara juga dibangun melalui interaksi masyarakat, kebudayaan, pendidikan, pariwisata, hingga komunikasi sehari-hari.
Karena itu, kemampuan bahasa mempunyai value yang cukup besar.
Seorang diplomat yang memahami bahasa negara tempatnya bertugas mempunyai kesempatan lebih luas untuk berinteraksi langsung tanpa selalu bergantung kepada penerjemah. Ia juga dapat memahami percakapan masyarakat, mengikuti pemberitaan lokal, serta menangkap berbagai ekspresi yang terkadang sulit diterjemahkan secara literal.
Bahasa Indonesia sendiri mempunyai banyak ungkapan yang maknanya sangat bergantung pada konteks. Ada perbedaan antara bahasa formal yang digunakan dalam acara resmi dengan bahasa yang digunakan dalam percakapan santai.
Ketika diplomat asing mampu menggunakan bahasa Indonesia secara lebih natural, komunikasi otomatis terasa less distant. Masyarakat tidak lagi melihatnya hanya sebagai perwakilan resmi negara lain, tetapi juga sebagai seseorang yang berusaha memahami Indonesia dari dekat.
Laos dan Indonesia Sama-sama Bagian dari ASEAN
Aksi Duta Besar Laos tersebut juga menarik jika dilihat dari hubungan kedua negara. Indonesia dan Laos merupakan sesama anggota Association of Southeast Asian Nations atau ASEAN.
Indonesia termasuk lima negara pendiri ASEAN bersama Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina pada 1967. Sementara Laos bergabung menjadi anggota ASEAN pada 23 Juli 1997 bersama Myanmar.
Keanggotaan dalam ASEAN membuat Indonesia dan Laos mempunyai banyak ruang untuk berinteraksi. Kerja sama tidak hanya berlangsung dalam bidang politik dan keamanan, tetapi juga ekonomi, pendidikan, sosial budaya, hingga konektivitas kawasan.
Hubungan masyarakat kedua negara mungkin memang tidak seintens Indonesia dengan beberapa negara ASEAN lainnya. Laos juga bukan destinasi yang paling sering menjadi pilihan wisatawan Indonesia dibandingkan Thailand, Malaysia, atau Singapura.
Namun, justru karena itulah momen sederhana seperti diplomat Laos berbicara bahasa Indonesia bisa menjadi sesuatu yang fresh. Publik mendapatkan sisi lain mengenai kedekatan dua negara yang sama-sama berada di kawasan Asia Tenggara.
Belajar Bahasa Lokal Punya Arti Penting bagi Diplomat
Bagi diplomat, mempelajari bahasa negara penempatan bukan sekadar menambah kemampuan baru di CV. Bahasa dapat menjadi salah satu modal untuk memahami karakter masyarakat.
Seseorang mungkin dapat membaca laporan mengenai Indonesia setiap hari, tetapi pengalaman berbicara langsung dengan masyarakat menggunakan bahasa Indonesia memberikan perspektif berbeda.
Ada humor, intonasi, istilah sehari-hari, hingga konteks budaya yang baru benar-benar terasa ketika seseorang memahami bahasanya.
Kemampuan tersebut juga membantu dalam berbagai aktivitas diplomatik. Seorang duta besar dapat berkomunikasi dengan pejabat daerah, mahasiswa, pelaku usaha, komunitas, wartawan, maupun masyarakat umum dengan lebih fleksibel.
Tidak semua pertemuan membutuhkan bahasa yang sangat formal.
Sometimes, percakapan sederhana justru bisa menjadi awal hubungan yang lebih dekat.
Karena itu, ketika Duta Besar Laos memperlihatkan kemampuan bahasa Indonesia, momen tersebut dapat dibaca sebagai bagian kecil dari diplomasi publik. Pesannya sederhana: ada kemauan untuk mengenal Indonesia menggunakan bahasa masyarakat Indonesia sendiri.
Netizen Indonesia Memang Senang Kalau Bahasa Indonesia Dipakai Orang Asing
Ada satu fenomena yang cukup familiar di internet Indonesia. Ketika orang asing bisa berbicara bahasa Indonesia dengan lancar, netizen biasanya langsung memberikan perhatian.
Fenomena tersebut sudah sering terlihat melalui konten kreator asing yang belajar bahasa Indonesia. Bahkan video sederhana seperti mencoba makanan lokal sambil berbicara bahasa Indonesia bisa mendapatkan respons besar.
Reaksi seperti itu sebenarnya cukup understandable.
Bahasa merupakan bagian dari identitas sebuah masyarakat. Ketika orang dari negara lain meluangkan waktu untuk mempelajarinya, ada perasaan bahwa bahasa dan budaya tersebut dihargai.
Hal serupa terjadi ketika seorang diplomat melakukannya.
Bedanya, konteksnya menjadi lebih formal karena yang berbicara adalah seorang perwakilan negara. Skill bahasa yang terlihat sederhana akhirnya membawa pesan diplomatik yang cukup kuat tanpa harus disampaikan melalui pidato panjang.
Bahasa Indonesia Semakin Mendapat Pengakuan Internasional
Kemampuan diplomat asing menggunakan bahasa Indonesia juga relevan dengan perkembangan bahasa Indonesia di tingkat global.
Salah satu milestone penting terjadi pada November 2023 ketika bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi dalam Sidang Umum UNESCO. Keputusan tersebut membuat bahasa Indonesia dapat digunakan sebagai bahasa resmi dalam forum tersebut.
Pemerintah Indonesia selama beberapa tahun terakhir juga terus mendorong internasionalisasi bahasa Indonesia melalui program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing atau BIPA.
Program BIPA menjadi salah satu pintu bagi warga negara asing yang ingin mempelajari bahasa Indonesia, baik untuk kebutuhan akademik, pekerjaan, diplomasi, maupun ketertarikan terhadap budaya Indonesia.
Semakin banyak warga asing yang mempelajari bahasa Indonesia, semakin luas pula ruang bahasa tersebut digunakan dalam interaksi internasional.
Tentu bahasa Indonesia masih mempunyai perjalanan panjang jika dibandingkan bahasa Inggris, Mandarin, Spanyol, atau Prancis dalam penggunaan global. Namun, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa bahasa Indonesia tidak hanya digunakan oleh masyarakat di dalam negeri.
Diplomasi Tidak Selalu Harus Terlihat Kaku
Ketika mendengar kata diplomasi, banyak orang mungkin membayangkan ruang pertemuan besar, meja panjang, bendera dua negara, dan pejabat yang berbicara menggunakan bahasa sangat formal.
Padahal diplomasi modern jauh lebih luas.
Media sosial membuat seorang diplomat sekarang dapat berkomunikasi langsung dengan masyarakat negara tempatnya bertugas. Konten mengenai makanan, bahasa, budaya, hingga aktivitas sehari-hari dapat menjadi bagian dari public diplomacy.
Pendekatan seperti ini membuat hubungan antarnegara terasa lebih human.
Masyarakat mungkin tidak mengikuti detail kerja sama bilateral Indonesia-Laos setiap hari. Namun, ketika melihat seorang Duta Besar Laos berbicara bahasa Indonesia, mereka bisa langsung mendapatkan impression positif.
Tidak ada pembahasan geopolitik yang complicated.
Tidak ada dokumen kerja sama puluhan halaman.
Hanya percakapan menggunakan bahasa Indonesia, tetapi pesannya dapat sampai kepada masyarakat dengan lebih mudah.
Bahasa Bisa Menjadi Bentuk Penghormatan terhadap Negara Penempatan
Ada alasan lain mengapa kemampuan bahasa lokal seorang diplomat menarik perhatian.
Ketika seseorang ditempatkan di negara lain, mempelajari bahasa setempat dapat dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat negara tersebut.
Hal ini tidak berarti setiap diplomat harus berbicara dengan kemampuan setara native speaker. Menjadi fasih dalam bahasa asing tentu membutuhkan waktu dan latihan yang tidak sedikit.
Namun, willingness untuk mencoba mempunyai makna tersendiri.
Dengan menggunakan bahasa Indonesia, seorang diplomat menunjukkan bahwa komunikasi tidak selalu harus berlangsung dari satu arah. Ada usaha untuk masuk ke dalam konteks masyarakat lokal.
Pendekatan tersebut penting dalam diplomasi karena hubungan antarnegara pada akhirnya tidak hanya menghubungkan institusi pemerintah, tetapi juga manusia.
Indonesia dan Laos Punya Ruang Kerja Sama yang Luas
Di luar momen viral kemampuan bahasa, Indonesia dan Laos mempunyai hubungan bilateral yang telah berjalan selama beberapa dekade.
Hubungan diplomatik Indonesia dan Laos secara resmi dimulai pada 1957. Sejak saat itu, kedua negara terus membangun hubungan melalui kerja sama bilateral maupun berbagai forum regional dan internasional.
Sebagai sesama negara ASEAN, Indonesia dan Laos mempunyai kepentingan yang sama dalam menjaga stabilitas serta pertumbuhan kawasan Asia Tenggara.
Kerja sama dapat berkembang dalam berbagai sektor, termasuk perdagangan, investasi, pendidikan, energi, pertanian, pariwisata, serta pengembangan sumber daya manusia.
Indonesia juga memiliki pengalaman dalam berbagai bidang yang dapat menjadi ruang kolaborasi dengan Laos. Sebaliknya, posisi Laos di kawasan Mekong membuat negara tersebut mempunyai peran penting dalam konektivitas daratan Asia Tenggara.
Hubungan people-to-people juga mempunyai potensi untuk terus diperluas.
Di sinilah bahasa kembali memainkan perannya.
Semakin masyarakat kedua negara saling mengenal, semakin mudah pula membangun hubungan yang tidak berhenti pada level pemerintahan.
Skill Bahasa Indonesia Bisa Membuat Hubungan Terasa Lebih Dekat
Dalam komunikasi, bahasa mempunyai kemampuan untuk mengurangi jarak.
Bayangkan dua diplomat memberikan pesan yang sama. Satu berbicara sepenuhnya menggunakan bahasa asing melalui penerjemah, sementara yang lain membuka percakapan menggunakan bahasa Indonesia.
Secara substansi mungkin tidak berbeda jauh.
Namun, secara emotional connection, respons audiens bisa berbeda.
Menggunakan bahasa yang dipahami langsung oleh masyarakat membuat pesan terasa lebih personal. Bahkan ketika masih ada sedikit aksen asing, hal tersebut justru terkadang membuat interaksi menjadi lebih genuine.
Kemampuan inilah yang terlihat menarik dari momen Duta Besar Laos ketika menunjukkan skill bahasa Indonesia.
Bukan karena seorang diplomat wajib fasih bahasa Indonesia, melainkan karena ada effort untuk berkomunikasi menggunakan bahasa masyarakat negara tempatnya bertugas.
Momen Sederhana dengan Pesan Diplomasi yang Kuat
Pada akhirnya, aksi Duta Besar Laos memamerkan kemampuan bahasa Indonesia mungkin terlihat sebagai momen sederhana.
Namun, di balik itu terdapat pesan yang cukup menarik mengenai hubungan antarnegara.
Diplomasi tidak selalu berbentuk perjanjian besar atau kunjungan kenegaraan. Terkadang diplomasi hadir melalui gesture kecil yang membuat masyarakat merasa lebih dekat.
Berbicara menggunakan bahasa Indonesia menjadi salah satunya.
Apalagi Indonesia dan Laos bukan dua negara asing satu sama lain. Keduanya merupakan anggota ASEAN yang telah menjalin hubungan diplomatik selama puluhan tahun dan sama-sama mempunyai kepentingan dalam membangun kawasan Asia Tenggara yang stabil serta terkoneksi.
Ketika seorang diplomat Laos menggunakan bahasa Indonesia dengan percaya diri, momen tersebut akhirnya menjadi lebih dari sekadar pamer kemampuan bahasa.
It is a small gesture, but it works.
Kemampuan Duta Besar Laos berbicara menggunakan bahasa Indonesia menjadi perhatian karena memperlihatkan sisi diplomasi yang lebih dekat dengan masyarakat.
Di luar kemampuan pronunciation atau seberapa banyak kosakata yang dikuasai, willingness untuk menggunakan bahasa Indonesia menjadi bentuk komunikasi yang dapat membangun kedekatan secara lebih natural.
Bagi seorang diplomat, kemampuan bahasa lokal juga memberikan banyak keuntungan. Ia dapat memahami masyarakat dengan lebih baik, berinteraksi tanpa selalu bergantung kepada penerjemah, serta membangun komunikasi yang terasa lebih personal.
Momen tersebut sekaligus menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Laos tidak hanya berjalan melalui pertemuan resmi di level pemerintahan. Hubungan antarnegara juga dapat dibangun melalui bahasa, budaya, pendidikan, dan interaksi masyarakat.
Pada akhirnya, aksi Duta Besar Laos pamer skill bahasa Indonesia memberikan satu reminder sederhana.
Diplomasi yang efektif tidak selalu harus complicated.
Kadang cukup dengan berbicara menggunakan bahasa masyarakat setempat, pesan mengenai penghormatan, kedekatan, dan persahabatan antarnegara sudah bisa tersampaikan dengan sangat baik.
Referensi
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia — Informasi hubungan bilateral Indonesia dan Laos.
https://kemlu.go.id/
ASEAN — Informasi negara anggota dan sejarah keanggotaan Laos di ASEAN.
https://asean.org/
UNESCO — Informasi penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Sidang Umum UNESCO.
https://www.unesco.org/
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen — Informasi program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).
https://badanbahasa.kemdikbud.go.id/